Tiga Kontraktor Migas Akan Mengakhiri Kontrak, Andi Agoes: Jangan Tinggalkan Masalah Baru

img

BALIKPAPAN, Akhir 2018 tiga kontraktor Produktion Sharing Minyak dan Gas (Migas) yang selama ini beroperasi di Kalimantan Timur (Kaltim) akan mengakhiri kontraknya karena perkembangan  yang ada dimana harga jula minyak terus mengalami penurunan yang cukup signifikan sehingga menimbulkan ketidak sehatan perusahan-perusahan kontraktor Migas.

"Kontraktor boleh saja mengakhiri kontrak mereka di bumi Kaltim namun jangan sampai menimbulkan masalah baru berupa pengangguran yang bisa berdampak pada ekonomi dan sosial. Untuk itu sebelum mengakhiri kontrak kerjanya diharapkan karyawan yang selama ini bekerja pada tiga perusahan kontraktor Migas itu bisa dilimpahkan ke Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang akan jadi pengelolah Blok Mahakam,’’ ujar Koordinator Gabungan Wartawan (Gawak) Kalimantan, H. Andi Agoes, SH.

Dia memberikan pemikiran ini karena secara jelas tiga perusahan Total E & P Indonesie, Chevron Indonesia dan Vico Indonesia akan mengakhiri kontrak mereka di Kaltim tahun depan, diharapkan karyawan yang akan putus kontrak tidak menjadi pengangguran tapi paling tidak mereka sudah dibekali dengan ketrampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Seperti diketahui, Bambang dari SKK Migas Kalimantan – Sulawesi, kemarin melalui satu acara temu wartawan di Lokasi Pemancingan Graha Indah, Kamis (4/5) menjelaskan kalau tiga perusahan Migas itu akan mengakhiri kontrak kerja mereka dengan pemerintah Indonesia akibat harga jual minyak yang terus merosot dengan tajam.

Dalam perbincangan itu, SKK Migas menjelaskan secar rinci peran tiga perusahan itu selama beroperasi di Kaltim, mulai dari penghasil minyak, konsentrat dan gas sampai memerani  kerjasama dengan pihak masyarakat melalui Usaha Kecil Mikro dan Koperasi (UMKM) termasuk membekali para masyarakat sekitar areal produksi menjadi petani, peternak  unggul dan membangun sejumlah sarana dan prasaran didesa sekitar operational Area.

Menurut Bambang dari SKK Migas Kalimantan -  Sulawesi (Kalsul) mewakili Pimpinan SKK Migas Kalsul mengatakan ketika tiga perusahan asing ini mengakhiri kontrak kerja mereka maka semua akan dialihkan pengelolaan kepada perusahan milik pemerintah Indonesia yakni Pertamina dalam hal ini PHM.

Ketika pengelolaan semua sumur-sumur gas dan minyak dari tiga perusahan itu yang masih aktif  diharapkan PHM masih tetap menggunakan jasa atau tenaga kerja pribumi yang sudah memiliki keahlian selama mereka bekerja di tiga perusahan Migas di Kalimantan dan Sulawesi itu.

Walaupun tiga perusahan Migas ini akan mengakhiri kontrak mereka namun sampai batas akhir pelimpahan pengelolaan migas,  produksi tetap berjalan dengan baik namun harga jual minyak yang terus menurun tajam sedangkan sumur-sumur yang masih produktif tetap memproduksi Migas sesuai target yang sudah ditetapkan,’’ jelas Bambang.

Seperti diketahui pengelolaan Blok Mahakam yang selama ini ditangani Total Explorasi & Production Indonesie, Chevron Indonesia dan Vico Indonesia yang juga merupakan perusahan berbendera asing per tanggal 1 Januari 2018 akan berakhir kerjasama dengan pemerintah Indonesia selanjutnya pengelolaan Migas disejumlah sumur yang ada akan dilanjutkan oleh Pertamina Hulu Mahakam.

Pengelolah Migas di Kaltim nantinya menjadi tanggungjawab PHM yang selanjutnya menjadi  operator Blok Mahakam yang dipercayakan kepada Pertamina, waktu yang terbilang singkat ini hendaknya dimanfaatkan pemerintah provinsi termasuk pemerintah daerah Kutai Kartanegara (Kukar) untuk menuntaskan apa yang menjadi kewajiban tiga perusahan itu untuk daerah dan  ini perlu kerja cepat dari Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) terutama kaitan dengan soal hak partisipasi atau dikenal dengan Participatioan interest (PI).

Kendati masa kontrak akan berakhir per 1 Januari 2018, bukan berarti untuk hak partisipasi dimana provinsi Kaltim dan Pemkab Kukar langsung menjadi bagian dari pengelolaan Blok Mahakam atau ikut menjadi operator bersama Pertamina, itu baru peralihan pengelolaan dari Total E & P Indonesie dengan Pemerintah Indonesia.

Masih menurut Andi Agoe, masa peralihan ini tentunya tidfak secepat yang kita pikirkan namun dipastikan akan berlangsung a lot karena langkah awal Pertamian baru akan melakukan identivikasi lokasi-lokasi Migas dari tiga perusahan sebelumnya, selanjutnya masih harus menyesuaikan dengan lapangan pekerjaan yang baru disamping mempelajafri berbagai fasilitas yang masih ada apakah masih bagus atau harus dilakukan pergantian dan ini pasti memakan waktu lama.max/poskotakaltimnews.com